
Bogor, (5/2) – Politeknik AKA Bogor menyelenggarakan Workshop Budaya Kerja Kaizen pada Selasa, 3 Februari 2026, sebagai upaya meningkatkan efisiensi, kualitas, serta kedisiplinan kerja di lingkungan kampus. Kegiatan ini menghadirkan narasumber internal Politeknik AKA Bogor, yakni dosen yang telah memperoleh pelatihan Kaizen secara langsung dari ahlinya, untuk berbagi pengetahuan dan pemahaman mengenai budaya kerja Kaizen kepada seluruh sivitas akademika.
Workshop ini difokuskan pada penerapan budaya perbaikan berkelanjutan (continuous improvement) yang dimulai dari kesadaran dan komitmen individu sebagai fondasi utama perubahan organisasi. Melalui pendekatan tersebut, diharapkan setiap insan kampus mampu berkontribusi aktif dalam menciptakan lingkungan kerja yang lebih efektif dan profesional.
Pada sesi pertama, peserta diperkenalkan dengan konsep dasar Kaizen yang berasal dari dua kata dalam bahasa Jepang, yaitu kai yang berarti perubahan dan zen yang berarti perbaikan. Dengan demikian, Kaizen dimaknai sebagai perubahan menuju kondisi yang lebih baik secara terus-menerus. Narasumber menekankan bahwa implementasi Kaizen tidak harus diawali dari sistem berskala besar, melainkan dapat dimulai dari kebiasaan kerja sehari-hari. Kesadaran personal untuk bekerja secara rapi, disiplin waktu, serta konsisten menjaga kualitas menjadi langkah awal yang menentukan keberhasilan budaya perbaikan berkelanjutan.
Memasuki sesi kedua, workshop membahas penerapan metode 5S yang meliputi Seiri (ringkas), Seiton (rapi), Seiso (resik), Seiketsu (rawat), dan Shitsuke (rajin/disiplin). Metode 5S dipaparkan sebagai alat praktis untuk meningkatkan efisiensi kerja yang penerapannya harus dimulai dari diri sendiri sebelum dilakukan secara kolektif di lingkungan kerja.
Dalam praktiknya, konsep red tag strategy pada tahap Seiri digunakan untuk menandai barang yang tidak diperlukan agar dapat dipisahkan dan dibuang, sehingga ruang kerja menjadi lebih lega dan terorganisir. Selanjutnya, signboard strategy membantu penataan dokumen dan peralatan melalui penandaan visual yang jelas, sementara penggunaan color coding mempermudah identifikasi kategori barang atau dokumen secara cepat. Untuk menjaga konsistensi penerapan, peserta juga dikenalkan dengan penggunaan checklist sebagai alat kontrol rutin agar standar kerapian dan kebersihan tetap terjaga.
Pada sesi ketiga, workshop mengulas konsep Three Reduction, yaitu muda, material loss, dan energy loss. Muda dijelaskan sebagai aktivitas yang tidak memberikan nilai tambah bagi pelanggan. Salah satu contoh yang sering terjadi adalah overproduction atau produksi berlebihan, yang justru menambah biaya penyimpanan dan meningkatkan risiko kerusakan. Selain itu, produk cacat (defect) juga termasuk dalam kategori muda karena menyebabkan pemborosan waktu, tenaga, dan biaya perbaikan.
Selanjutnya, peserta mempelajari berbagai bentuk kerugian material yang meliputi material utama, material bantu, material penyiapan, serta stok yang tidak dapat digunakan. Kerugian tersebut umumnya terjadi akibat perencanaan yang kurang tepat, penyimpanan yang tidak sesuai, atau proses kerja yang belum efisien. Oleh karena itu, pengendalian material menjadi aspek penting dalam penerapan Kaizen, khususnya di lingkungan pendidikan vokasi yang erat dengan kegiatan praktikum dan produksi.
Melalui penyelenggaraan workshop ini, Politeknik AKA Bogor berharap budaya Kaizen dapat tertanam kuat dalam perilaku kerja sehari-hari sivitas akademika. Perbaikan kecil yang dilakukan secara konsisten diyakini mampu meningkatkan produktivitas, mengurangi pemborosan, serta menciptakan lingkungan kerja yang lebih tertib dan profesional. Implementasi berkelanjutan dari prinsip-prinsip Kaizen tersebut diharapkan tidak hanya berdampak pada kinerja internal institusi, tetapi juga menghasilkan lulusan yang siap menerapkan budaya efisiensi dan perbaikan berkelanjutan di dunia industri.

